MAKASSAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan (Sulsel) mengingatkan seluruh wilayah di Sulsel agar mewaspadai potensi zona merah kekeringan pada puncak musim kemarau mendatang. Kondisi cuaca yang anomali membuat ancaman kekeringan sulit diprediksi secara pasti sehingga kesiapsiagaan di tingkat kabupaten dan kota harus ditingkatkan.

“Kalau zona merah itu, sekarang itu cuaca anomali, jadi bisa saja kita tidak prediksi masuk zona merah, bisa saja masuk begitupun sebaliknya. Tapi, dari informasi dari BMKG bulan Agustus dan September itu ada beberapa daerah masuk zona merah,” ujar Kepala BPBD Sulsel, Amson Padolo, Jumat (17/4/2026)

Berdasarkan data BMKG Wilayah IV Makassar, zona merah kemarau pada Agustus diprediksi mengepung sebagian besar wilayah Sulsel, mencakup Luwu Utara, Toraja Utara, Pinrang, Parepare, Barru, Soppeng, Pangkep, Maros, Makassar, Takalar, hingga Jeneponto. Ancaman kekeringan juga menjangkau hampir seluruh Gowa, Luwu Timur, dan Palopo, serta sebagian wilayah Enrekang, Sidrap, Wajo, Bone, Luwu, dan sebagian kecil Bantaeng.

Memasuki September, puncak kemarau diprediksi bergeser dan meluas ke wilayah selatan dan timur Sulsel, meliputi seluruh Sinjai, Bulukumba, serta Kepulauan Selayar. Sebaran zona merah turut mencakup sebagian Luwu Timur, Luwu, Sidrap, Enrekang, Wajo, dan Bone, serta mendominasi sebagian besar Bantaeng dan sebagian wilayah Gowa.

Amson menyebut prioritas pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat di tengah ancaman El Nino Godzilla. BPBD juga berkoordinasi dengan PDAM di tiap daerah serta memantau kondisi irigasi bersama dinas terkait guna mengamankan sumber air baku.

“Kami sudah mensosialisasikan dan mengimbau adanya langkah antisipasi yang dilakukan setiap tahun. Kan tahun lalu itu ada pertemuan dengan BPBD dengan PDAM karena yang perlu diantisipasi adalah paling penting adalah sumber air baku, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Sebelumnya juga kan kita bekerja sama dengan Kodam untuk pembuatan sumur bor di pemukiman, semoga itu masih berfungsi,” terangnya.

Pihaknya juga mempertimbangkan opsi operasi modifikasi cuaca jika kondisi awan di atmosfer memungkinkan adanya bibit hujan. Selain masalah air, BPBD Sulsel bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup serta Damkar untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Kalau ada bibit hujan ya, kalau tidak ada kan gak bisa juga. Kita juga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, Damkar juga untuk pemukiman, kalau hutan terbakar, susah untuk dipadamkan,” pungkas Amson.

Musim kemarau tahun ini terpantau sudah dimulai sejak April di wilayah Selayar, Jeneponto, Takalar, dan Gowa. Memasuki Juni, wilayah yang terdampak diprediksi bertambah ke daerah Bone, Pinrang, Barru, hingga Toraja Utara sebelum mencapai puncaknya di akhir tahun.