Utara Gaza menjadi contoh nyata bahwa jumlah korban sipil yang ditimbulkan Israel bukan tanda kemenangan pasukan Zionis. Karena dalam prinsip perang perlawanan kemerdekaan secara gerilya, pasukan perlawanan dianggap menang selama mereka tak bisa dimusnahkan. Bertahannya para pejuang dan warga Gaza sejauh ini adalah kekalahan bagi Israel.

Di Gaza, tekad rakyat Palestina untuk tetap tinggal di tanah mereka – meski tanahnya sudah hancur menjadi puing-puing – terbukti menjadi faktor penentu dalam perang ini. “Dan ini merupakan prestasi yang luar biasa, mengingat wilayah seluas 360 kilometer persegi itu sepenuhnya terputus dari dunia luar, tanpa sekutu yang bisa menghentikan pengepungan dan tidak ada medan alami untuk berlindung,” tulis David Hearst.

Pencaplokan gagal

Tujuan Israel yang juga gagal adalah upaya mencaplok kembali Jalur Gaza. Usaha ini mengemuka saat pada Oktober Netanyahu mendukung Rencana Jenderal, yang bertujuan untuk mengosongkan Gaza utara sebagai persiapan untuk pemukiman kembali oleh orang Israel. Rencananya adalah membuat penduduk Gaza utara kelaparan dan mengebom dengan menyatakan bahwa siapapun yang tidak pergi secara sukarela akan diperlakukan sebagai teroris.

Bagaimanapun, kelaparan yang dipaksakan, hipotermia, penyakit, atau kebrutalan dan pemerkosaan massal di tangan penjajah, tidak dapat mematahkan keinginan mereka untuk tetap tinggal di tanah mereka. “Belum pernah para pejuang dan warga sipil Palestina menunjukkan tingkat perlawanan seperti ini sepanjang sejarah konflik – dan hal ini bisa menjadi sebuah hal yang transformatif,” kata Hearst.