Pada akhirnya, dalam kesepakatan gencatan senjata, Israel bersedia secara bertahap mundur dari seluruh wilayah Gaza. Tak hanya itu, disepakati juga bahwa penduduk Gaza Utara yang diusir bisa kembali ke rumah-rumah mereka.

Syarat penarikan pasukan itu berulang kali membuat gagal gencatan senjata. Netanyahu bersikeras bahwa syarat itu tak akan ia setujui dan pasukan Israel akan terus berada di Gaza. Berulang kali seruan dari Presiden Joe Biden agar gencatan senjata disepakati tak digubris.

Netanyahu akhirnya keok saat presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump mengirimkan utusan khusus Timur Tengah Presiden terpilih AS Donald Trump, Steve Witkoff. Setelah satu pertemuan, garis merah yang dipertahankan Netanyahu selama 15 bulan terhapus.

Seperti yang dikatakan oleh pakar Israel, Erel Segal: “Kami adalah pihak pertama yang menanggung akibatnya atas terpilihnya Trump. [Kesepakatan] dipaksakan kepada kami… Kami pikir kami akan menguasai Gaza utara, sehingga mereka membiarkan kami menghalangi bantuan kemanusiaan.”

Hal ini muncul sebagai sebuah konsensus. Suasana di Israel skeptis terhadap klaim kemenangan. “Tidak perlu menutup-nutupi kenyataan: gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera berdampak buruk bagi Israel, namun Israel tidak punya pilihan selain menerimanya,” tulis kolumnis Yossi Yehoshua di Ynet.

Draf perjanjian gencatan senjata yang beredar dengan jelas menyatakan bahwa Israel akan menarik diri dari Koridor Philadelphi dan Koridor Netzarim pada akhir proses, ketentuan yang sebelumnya ditolak Netanyahu.